Selasa, 20 Oktober 2015

cerpen air mata seorang ibu

     Jakarta selatan, tinggalah satu keluarga yang sederhana. Keluarga tersebut terdiri dari seorang Ayah, Ibu dan tiga anak laki-laki bersaudara. Hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan membuat sang anak terbiasa hidup hemat. Bahkan ketika sudah masuk masa SMA (anak tersebut ditakdirkan masuk salah satu SMA Negeri di bilangan Jakarta Selatan ) yang pada waktu itu sang anak dalam hal ini anak pertama, rela berjalan kaki sampai puluhan kilo meter hanya untuk menghemat agar uang jajan yang tidak seberapa, pemberian dari orang tuanya bisa di tabung dan dipergunakan untuk membeli keperluan sekolah.
Alkisah suatu masa di bilangan


     Ekonomi keluarga tersebut terbilang pas-pasan, sang ayah hanya penjual pohon hias dan sang ibu hanyalah ibu rumah tangga, tetapi punya semangat yang tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Untuk membantu ekonomi keluarga, sang ibu berusaha mendapatkan penghasilan tambahan demi pendidikan anak-anaknya, dari menjual susu sapi murni, menjual nasi uduk dan susaha-usaha lainnya. Urusan sekolah pun, ibulah yang turun tangan, dari mengambil raport, sampai meminta keringanan biaya sekolah karena mereka termasuk golongan orang yang tidak mampu.

     Singkat cerita di awal th 90-an, keluarga tersebut harus hijrah dari tanah kelahirannya, karena sudah tersentuh oleh rencana pembangunan kota Jakarta. Akhirnya mereka pindah ke salah satu daerah selatan Jakarta (baca: Depok). Di tempat yang baru , keluarga tersebut sempat bingung, untuk menentukan mata pencaharian. Akhirnya diputuskanlah untuk membuka warung kelontong. Karena situasi tempat yang baru masih sangat sepi dan pendapatan warung mereka tidak seberapa, maka akhirnya ada inisiatif dari Ibu mereka untuk membuka warung nasi, karena disana sedang ada dan bahkan banyak pembangunan rumah-rumah baru, sehingga banyak pekerja bangunan yang memerlukan makan, sedangkan warung nasi masih belum ada. Hal ini dilakukan demi menambah penghasilan keluarga untuk pendidikan ana-naknya. Sang ibu tidak akan rela kalau sampai anak-anaknya putus sekolah.

     Bicara hubungan keluarga, keluarga mereka termasuk yang harmonis, walaupun didera masalah ekonomi. Hubungan antara ayah, ibu dan anak-anak juga harmonis dan apa .adanya. Anak-anak cukup mengerti akan mata pencaharian orang tua mereka. Kadang ada tingkah dan kelakuan sang anak yang membuat orang tua mereka marah. Tetapi hal tersebut walau kadang terjadi berlalu begitu saja. Amarah orang tua hanya di mulut saja, tidak pernah sampai ke hati. Memang begitulah orang tua meraka, terutama sang ibu, semua dilakukan semata-mata hanya untuk kebaikan sang anak, dan hasilnya dapat dirasakan oleh mereka, sang anak sampai saat ini.

     Suatu ketika sang anak pertama mengalami peristiwa yang bisa jadi tidak akan terlupakan sampai akhir hayat. Pagi itu sang anak minta kepada sang ibu untuk memasak nasi dan lauknya lebih cepat karena harus berangkat sekolah lebih pagi untuk mengerjakan tugas dari sekolah. Waktu itu sekolah masuk siang karena masih kelas satu SMA. Tetapi setelah semuanya selesai dan hidangan siap disantap, malah sang anak berpura-pura tidak tahu dan cuek yang akhirnya membuat sang ibu marah, kesal dan sedih hingga meneteskan air mata merasa dipermainkan sang anak.

     Melihat sang ibu menangis, hati sang anak pun iba, sedih dan merasa bersalah. Perasaan galau pun meliputi seluruh isi hatinya. Tak satupun kata-kata yang bisa terucap, hanya satu hal yang menjadi tekad dan janji dalam hatinya bahwa inilah hari terakhir ia melihat ibunya menangis, sampai akhir hayatpun ia tak akan rela melihat ibu menangis. Sebuah janji yang sampai hari ini pun sang ibu tak pernah tahu. Sebuah tekad yang keluar dari hati sanubari serang nak kepada ibunya. Sebuah janji yang menjadikan hubungan mereka lebih erat dan akrab, hubungan antara ibu dan anak. Sampai saat ini hubungan tersebut makin bertambah erat dan hangat, begitulah kasih sayang seorang ibu, rasa sayang yang dimiliki menembus jarak dan waktu.

     Kini sekian lama waktu berlalu, sang anak, masing-masing telah menyelesaikan pendidikan mereka, anak sulung dan bungsu kuliah di Universitas Indonesia dan yang tengah di Gunadarma, serta mereka masing-masing telah pula membentuk keluarga.
Yang sulung tinggal di Bekasi dan lainnya tetap tinggal di depok dekat dengan orang tua mereka.

     Hingga kini janji tersebut tetap ditunaikan dan semoga tetap dapat ditepati hingga akhir nanti. Terima kasih ibu, semoga Allah SWT selalu menyayangimu sebagaimana ia menyayangi kami di waktu kecil.
Begitu doa yang selalu dimohonkan sang anak.


http://zhazarhara88.blogspot.co.id/2014/02/cerpen-air-mata-seorang-ibu.html

3 komentar: